Minggu, 03 Januari 2010

Kisah Mahatma Gandi

Kisah Mahatma Gandi
Oleh
Nama : Titik Widiastuti
Nim : 0905136185
Prodi : Manajemen Pendidikan











MAHATMA GANDHI
PEMIMPIN ANTI KEKERASAN DAN PENYERU PERDAMAIAN

A. Berjuang Untuk Orang Miskin Yang Tertindas
Orang laki-laki itu sering dipanggil Gandhji atau Mahatma Gandhi (artinya berjiwa hebat). Nama lengkapnya Mohandas Karamchad Gandhi. Beliau dilahirkan pada tanggal 2 Oktober 1869 di Pontabar, sekarang Gujarat di India. Ayah Gandhi adalah seorang perdana menteri di kesultanan Gujarat. Sedangkan ibunya seorang Hindu yang sangat relegius.
Pada usia 13 tahu, yaitu tahun 1883 Gandhi dinikahkan dengan gadis bernama Kasturba.

1. Merantau Lintas Benua
Pada usia perkawinan yang ke lima, Gandhi pergi ke Inggris untuk melanjutkan sekolah, belajar ilmu hukum di Universitas College, London. Ia menamatkan pendidikan itu tahun 1891. Usai kuliah, sebenarnya Gandhi diterima bekerja di Pengadilan Inggris. Tetapi Gandhi memilih untuk kembali ke tanah airnya.
Di India Gandi menjadi pengacara, tetapi kurang berhasil. Gandi yang lelah menjadi pengacara pergi merantau ke Durban, Afrika Selatan, yaitu sebuah Negara koloni Inggris, sama dengan India.Di Durban Gandhi dan para India lainnya diperlakukan diskriminasi (diskriminasi ras) yang dinamakan apartheid.

2. Awal Perjuangan
Dengan melihat kenyataan tersebut, Gandhi memutuskan untuk menjadi aktivis politik, agar dapat mengubah hukum-hukum diskriminatif tersebut.Gandhi membentuk gerakan non kekerasan, yaitu perlawanan pasif serta non kooperatif dengan penguasa Afrika Selatan.
Pada tahun 1906, Gandhi memulai gerakan perlawanan pasif melawan hukum, dengan melarang warga kulit hitam Afrika, kulit berwarna serta warga India untuk bepergian tanpa identitas. Ia memimpin orang-orang India untuk berdemonstrasi dan mogok kerja. Akhirnya Gandhi mendapat simpati ribuan orang. Akibat keberaniannya ini Gandhi sering keluar masuk penjara. Gandi memegang prinsip satyagraha yang artinya kebenaran dan keteguhan.
Tahun 1914 pemerintah Afrika menerima paket reformasi yang dinegosiasikan oleh Gandhi dan Jendral Jan Christian Smith. Setahun kemudian ia pulang ke India.

B. Memerdekakan India
Di India, Gandhi segera terjun ke lapangan yang lebih rumit, yaitu perjuangan India untuk otonomi.
1. Kebenaran dan pantang menyerah.
Gandhi menerapkan ajaran satyagraha dan mengkampanyekan perlawanan pasif terhadap Inggris. Gayung bersambut , ribuan rakyat India ikut dalam aksi Gandhi.
Ketika Parlemen meloloskan Rowlatt Acts --Undang-Undang yang memberikan kekuasaan darurat kepada pemerintah kolonial India untuk menindak para aktifis revolusioner—demonstrasi besar segera terjadi. Jutaan orang turun ke jalan.
13 April 1919 gerakan dihentikan saat tentara Inggris menembaki kerumunan 10.000 warga tak bersenjata dan orang-orang India tak bersalah yang berkumpul di Amrtisar, Punjab, untuk merayakan hari raya umat Hindu. Total tembakan berjumlah 1.650 kali yang menewaskan 379 orang dan melukai 1.137 lainnya.
2. Kemerdekaan itu datang juga.
Usaha Gadhi untuk membantu kemerdekaan India dari jajahan Inggis, banyak memberi inspirasi bagi rakyat di koloni-koloni lainnya agar berjuang untuk mendapatkan kemerdekaannya
Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara.
Pada 1947, India menjadi merdeka dan pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan. Hal ini tidak disetujui Gandhi. Prinsip Gandhi, satyagraha, sering diterjemahkan sebagai “jalan yang benar” atau “jalan menuju kebenaran”, telah menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela. Gandhi sering mengatakan kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa).Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah Gandhi terlalu memihak kepada Muslim.
C. Empat Teori Perilaku Kepemimpinan Gandhi
Mahatma Gandhi mungkin bukan pemimpin dalam arti yang sebenarnya, namun dari perjuangannya sebagai aktivis politik yang mengusahakan terciptanya perdamaian dunia dimana tidak adanya kekerasan dan diskriminasi, ia telah menginspirasi banyak orang untuk berpikir dengan caranya tersebut. Ia bahkan banyak menginspirasi para aktivis politik dari generasi di bawahnya, seperti Nelson Mandela dan Martin Luther King Jr..
Perilaku kepemimpinan Mahatma Gandhi bila dikaitkan dengan 4 teori perilaku kepemimpinan dapat dilihat sebagai berikut :
1. OHIO State Studies
a. Initiating structure : sebagai seorang aktivis politik yang mencintai perdamaian dan anti kekerasan, Mahatma Gandhi tidak memiliki initiating structure yang khusus. Beliau hanya berusaha menularkan kasih sayang dan sikap anti kekerasan dan diskriminasi untuk membuat orang menciptakan perdamaian dunia bersama.
b. Consideration : ini ditunjukkan dengan kepeduliannya terhadap diskriminasi dan kekerasan, pemikiran yang membaur terhadap agama-agaman lain, serta perdamaian dunia untuk kemakmuran setiap manusia.
2. University of Michigan Studies
a. Pemimpin yang berorientasi pada karyawan : Mahatma Gandhi menyamaratakan setiap manusia. Karena itu, beliau pastilah juga menjaga hubungan baik dengan setiap orang.
b. Pemimpin yang berorientasi pada produksi : tidak.
3. Managerial Grid, yang terdapat pada ciri kepemimpinan Mahatma Gandhi :
a. Country club management : karena tujuannya adalah untuk kemakmuran dan perdamaian seluruh manusia didunia, maka beliau pasti menciptakan hubungan yang dekat dan nyaman dengan setiap orang.
b. Organization man management : karena tujuannya adalah untuk kemakmuran dan perdamaian seluruh manusia di dunia, maka beliau menciptakan hubungan yang dekat dan nyaman dengan setiap orang.
4. Scandinavian Studies
Berorientasi pada perkembangan : Mahatma Gandhi berusaha membuat dan mengimplementasikan perubahan agar tindakan seperti praktek kekerasan dan diskriminasi tidak lagi terjadi.
D. Mengambil Keteladanan Mahatma Gandhi
Untuk bisa memetik manfaat yang optimal, tidak bisa tidak, dibutuhkan hadirnya seorang pemimpin yang mengerti dan menerapkan the art of leadership secara tepat. Sebab pada akhirnya berbagai rintangan yang dihadapi tidak cukup hanya dikeluhkan dan diwacanakan, tetapi harus dipecahkan.
Bukan hanya pemimpin pada tingkat perusahaan yang harus memahami semua itu, juga pemimpin politik dan masyarakat. Pada akhirnya memang tiga pilar: negara, masyarakat madani, dan dunia usaha harus saling menunjang bagi majunya sebuah bangsa. Sebagai seorang pengacara kenamaan, Gandhi seharusnya bisa menikmati kehidupan yang sangat nyaman di Afrika Selatan. Namun, Gandhi tak mau hanya memikirkan dirinya. Perlakuan yang dialami sebagai warga kelas dua di Afsel, membuat ia terbayang akan nasib bangsanya, yang hidup di bawah penjajahan bangsa Inggris.
Gandhi meninggalkan semua kemewahannya di Afsel untuk kembali ke negerinya pada tahun 1917. Ketika turun dari atas kapal, Gandhi disambut hangat oleh rakyatnya. Ia diminta untuk naik ke atas panggung dan berpidato. Namun, pidatonya begitu singkat: ”Terima kasih atas penyambutan Anda semua,” kata Gandhi sambil menyampaikan salam khas bangsa India, menempelkan kedua telapak tangan di depan dada.
Mengapa begitu pendek pidato Gandhi? Ia bukan seorang politikus yang biasa mengumbar janji, tetapi seorang pemimpin yang tahu diri dan rendah hati. Ia mengaku tidak mungkin berbicara banyak karena tidak mengerti negerinya.
Karena sudah bertahun-tahun Gandhi meninggalkan negerinya, maka ia merasa tidak tahu dan tidak mengerti akan bangsanya. Sebagai upaya untuk mengenal negerinya, berkeliling India dengan menggunakan kereta api untuk mengetahui setiap denyut napas yang dihadapi rakyatnya.
Dengan sikapnya yang merakyat, integritas pribadi yang begitu tinggi, kesediaannya untuk berkorban, konsistensi dalam bersikap, Gandhi mendapat kepercayaan dari rakyat. Sikapnya yang inklusif membuat ia mampu merangkul semua pemimpin dari latar belakang untuk menjadi satu kekuatan.

Pemimpin itu mengajak
Perjuangan Gandhi untuk membangkitkan kesadaran bangsanya memang tidak dicapai secara instan. Tiga puluh tahun lamanya ia berjuang tiada henti untuk membawa kemerdekaan bagi bangsa India. Selama masa perjuangan itu, Gandhi tidak ingin sendirian. Ia mengajak pemimpin India lainnya untuk konsisten berjuang bagi kemajuan bangsanya.
Gandhi menjadi contoh bahwa seorang pemimpin bukan bekerja hanya untuk dirinya, apalagi untuk ketenarannya semata. Seorang pemimpin harus mampu untuk bisa mengajak orang bertindak dan meyakinkan orang lain untuk mampu berbuat yang terbaik.
Dalam sebuah kisah, Gandhi menemui orang-orang miskin yang begitu banyak. Kepada Gandhi, mereka mengeluhkan kemiskinannya. Mereka membutuhkan makanan karena merasa benar-benar lapar.
Gandhi menunjukkan dirinya sungguh bukan seorang pemimpin yang populis. Ia tidak lalu menjanjikan untuk memberikan makanan. Yang Gandhi berikan justru sebuah pertanyaan bernada ajakan. Gandhi menanyakan apa yang harus kita lakukan untuk bisa menjawab semua persoalan yang dihadapi ini.
Kepemimpinan yang ditunjukkan Gandhi sungguh merupakan pelajaran sangat berharga untuk kita bisa petik. Setidaknya ada tiga hal yang bisa diambil hikmahnya. Pertama, seorang pemimpin harus mampu memberikan contoh sebelum mengajak orang melakukan apa yang diinginkan. Kedua, pemimpin harus benar-benar memahami persoalan dengan mendengar dan melihat realita yang sesungguhnya terjadi. Ketiga, pemimpin harus mampu mengajak orang ikut terlibat aktif dan mendukung dari belakang, bukan hanya digunakan ajang untuk unjuk kemampuan pribadi.
Gandhi memang orang yang luar biasa. Ia memiliki ambisi, tetapi tidak ambisius. Bahkan, ketika kemerdekaan itu diraih dan kesempatan untuk mendapatkan tampuk kepemimpinan nasional ada di tangan, ia tidak mengambil kesempatan itu. Ia sungguh contoh seorang pemimpin yang bekerja untuk bangsanya.











DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.icrp-online.org/wmview.php?ArtID=256, MEMOAR::Mahatma Gandhi, Anti kekerasan dan penyeru perdamaian

2. http://www.indoindians.com/index.php?option=com_content&view=article&id=590&Itemid=67, Chander Shekhar Azad - Sebuah Profil Keberanian

3. http://mediaindonesia.com/read/2009/03/03/64433/77/21/Mahatma_Gandhi_Memimpin_Gerakan_Perlawanan_Sipil, Mahatma Gandhi Memimpin Gerakan Perlawanan Sipil

4. http://tunas63.wordpress.com/2009/01/01/tokoh-pergerakan-nasional-india-dan-pilar-perjuangan-mahatma-gandhi/, Tokoh Pergerakan Nasional India dan Pilar Perjuangan Mahatma Gandhi

5. http://yasinta.wordpress.com/2008/09/04/mahatma-gandhi-dan-empat-teori-perilaku-kepemimpinan/, Mahatma Gandhi dan Empat Teori Perilaku Kepemimpinan

6. http://caninews.com/hot_issues/article.php?article_id=496, Pakar Kepemimpinan India: Keajaiban Ada di Dalam Kepemimpinan

7. http://my.opera.com/doniekris/blog/show.dml/1230970, Kepemimpinan yang Melayani

8. http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0602/27/ekonomi/2469030.htm, Memetik Teladan dari Mahatma Gandhi

9. http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=144581, Kepemimpinan Berbasis Moral


1. http://www.icrp-online.org/wmview.php?ArtID=256, MEMOAR::Mahatma Gandhi, Anti kekerasan dan penyeru perdamaian

2. http://www.indoindians.com/index.php?option=com_content&view=article&id=590&Itemid=67, Chander Shekhar Azad - Sebuah Profil Keberanian

3. http://mediaindonesia.com/read/2009/03/03/64433/77/21/Mahatma_Gandhi_Memimpin_Gerakan_Perlawanan_Sipil, Mahatma Gandhi Memimpin Gerakan Perlawanan Sipil

4. http://tunas63.wordpress.com/2009/01/01/tokoh-pergerakan-nasional-india-dan-pilar-perjuangan-mahatma-gandhi/, Tokoh Pergerakan Nasional India dan Pilar Perjuangan Mahatma Gandhi

5. http://yasinta.wordpress.com/2008/09/04/mahatma-gandhi-dan-empat-teori-perilaku-kepemimpinan/, Mahatma Gandhi dan Empat Teori Perilaku Kepemimpinan

6. http://caninews.com/hot_issues/article.php?article_id=496, Pakar Kepemimpinan India: Keajaiban Ada di Dalam Kepemimpinan

7. http://my.opera.com/doniekris/blog/show.dml/1230970, Kepemimpinan yang Melayani

8. http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0602/27/ekonomi/2469030.htm, Memetik Teladan dari Mahatma Gandhi

9. http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=144581, Kepemimpinan Berbasis Moral

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar